Minggu, 24 Desember 2017

tradisi nyongkolan

tradisi nyongkolan adat sasak



TRADISI NYONGKOLAN ADAT SASAK
Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi sendiri soal pernikahan, tak terkecuali di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu kebiasaan masyarakat Suku Sasak dalam acara prosesi pernikahan disebut nyongkolan. Tradisi nyongkolan bertujuan memperkenalkan pengantin baru kepada masyarakat luas. Pasangan yang akan menikah diarak dari rumah mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan. Peserta nyongkolan adalah keluarga dan kerabat mempelai perempuan yang memakai baju adat serta diiringi rombongan musik tradisional seperti gamelan atau kelompok penabuh rebana. Bagi kalangan bangsawan, biasanya menggunakan iringan musik gendang beleq.
Karena faktor jarak, arak-arakan ini tidak benar-benar dilakukan secara harfiah dari rumah mempelai laki-laki, namun dimulai dari jarak 0,5-1 km dari rumah perempuan. Selama proses arak-arakan, peserta nyongkolan dari rombongan laki-laki membawa benda hasil perkebunan dan pertanian seperti buah-buahan maupun sayur-sayuran untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat dan tetangga dari pihak perempuan.Sampai di rumah perempuan, pasangan akan sungkeman dan meminta doa dan restu kepada keluarganya. Tradisi ini menandakan bahwa pihak keluarga sudah merestui pernikahan anak gadisnya dan melepas anaknya untuk dibawa suaminya. 
 Mitos yang masih dipercayai suku sasak bila nyongkolan tidak digelar setelah akad nikah, maka rumah tangga sang pengantin tersebut biasanya tidak akan bisa bertahan lama atau keturunan dari pasangan pengantin ini biasanya akan lahir dalam kondisi cacat fisik.Nyongkolan dapat dilihat di berbagai pelosok lombok  saat akhir pekan, dari jalanan kecil antar kecamatan sampai jalan lintas kabupaten. Kemeriahan nyongkolan tak jarang menarik perhatian warga sekitar untuk menonton arak-arakan yang mirip pawai ini. Hasilnya, kemacetan pun tak terelakkan karena rombongan memenuhi separuh badan jalan ditambah lagi warga yang menonton.

26 komentar:

  1. Berarti dalam melaksanakan proses "NYONGKOLAN" ini sudah bisa dibilang "RITUAL" untuk menghindari mitos itu sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya karena itu sudah menjadi tradisi orang lombok

      Hapus
  2. Penulisannya masih ada yg harus diperbaiki fit. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya😊

    BalasHapus
  3. Sangat menarik 😊

    BalasHapus
  4. Prosesi ritual nyongkolannya mungkin bisa dibahas lebih dalam lagi

    BalasHapus
  5. Mantaapp jiwa... kembangkan πŸ˜‰

    BalasHapus
  6. Semoga dengan adanya artikel ini, memberi jawaban yang benar atas anggapan² yang melenceng tentang Sasak.
    SALAM BUDAYA !

    BalasHapus
  7. terima kasih uhkti,
    artikel anda sangat inspiratif semoga bermanfaat bagi banyak orang...

    BalasHapus
  8. Sangat bermanfaat buat saya yg ingin mencari istri orang lombok

    BalasHapus
  9. Lestarikan terus budaya sasak

    BalasHapus
  10. sebagian dari warga sasak yg beranggapan dan beranggapan dan mempercayai mitos dari tidak di adakan nyongkolan,karena maraknya percerain dan populasi janda muda di pulau Lombok yg kian meningkat.menurut saya sendiri itu lbh kepada pernikahan dini. orang tua yg cenderung ingin menikahkan anaknya tanpa memperhatikan kesiapan mental dari anaknya2, juga faktor sosial lainnya spt masalah ekonomi dan kurangnnya pengetahuan dalam berumah tangga.

    BalasHapus